0 Kecelakaan Sukhoi Ternyata Hampir Sama Dengan Tragedi Cn 235 Di Gunung Puntang 1992


http://images.detik.com/content/2012/05/14/10/SukhoiJatuh-TKP-D.jpg

Kecelakaan jatuhnya pesawat Sukhoi SuperJet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, mengingatkan pada salah satu kecelakaan dalam dunia dirgantara di Indonesia pada tahun 1992. Pesawat CN 235 Merpati MZ 5601 yang dinamakan Trangadi, jatuh di Gunung Puntang, Bandung, Jawa Barat.

Pilot pesawat saat itu adalah seorang perempuan bernama Fierda Basaria Panggabean. Pesawat itu berangkat dari Semarang menuju Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dan jatuh pada ketinggian 2.040 meter di Gunung Puntang.

Pertama, yang menghubungkan kedua kecelakaan adalah keputusan pilot untuk menurunkan ketinggian pesawat.

Pilot pesawat CN 235, Capt Fierda, menurunkan ketinggian pesawat dari 12.500 kaki menuju 8.500 kaki. Hal yang sama juga dilakukan oleh pilot Sukhoi, Alexander Yablontsev, dengan menurunkan ketinggian hingga 6.000 kaki dari ketinggian 10.000 kaki, padahal ketinggian Gunung Salak sekitar 7.000 kaki.

"ATC memberikan izin pesawat turun dari 10 ribu kaki ke 6 ribu karena ada permintaan dari pilot. Itu adalah flight plan yang diminta Sukhoi ke radial 200 dan 20 nautical mile dari Lanud Halim. Itu adalah wilayah Bogor area di atas Lanud Atang Sendjaja, itu sebuah wilayah safe training. Area sangat aman," kata Deputy Senior General Manager PT Angkasa Pura Cabang Bandara Soekarno-Hatta, Mulya Abdi.

Pada kasus Merpati CN 235 MZ 501, pilot pesawat juga menghubungi Aprroach Control Office (APP) Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan mengabarkan akan menurunkan ketinggian pesawat dan mengandalkan pengamatan visual. Sayangnya, Merpati tidak pernah mencapai Bandung dan menabrak tebing Gunung Puntang. 27 Penumpang dan empat awak yang berada di dalam perut pesawat tewas.

Hubungan kedua dari peristiwa ini adalah masalah cuaca. Sebelum jatuhnya Sukhoi, awan yang berada di sekitar udara Gunung Salak banyak dan tebal.

"Data Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) menunjukkan sekitar waktu kejadian, awan di sekitar Gunung Salak tampak sangat rapat dengan liputan awan lebih dari 70 persen," ujar Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, bebrapa waktu lalu.

Di sekitar Gunung salak juga terdapat awan jenis Cb alias Cumulonimbus yang menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki atau 11,1 km.

"Data satelit itu memberi gambaran bahwa saat kejadian, pesawat dikepung awan tebal yang menjulang tinggi," kata Djamaluddin.

Hal yang sama juga terjadi menjelang jatuhnya pesawat Merpati CN 235. APP Husein Sastranegara juga sempat memberitahukan terjadi hujan dan menyarankan pesawat untuk mempertahankan ketinggiannya pada 12.500 kaki.

Hingga kini, belum diketahui penyebab alasan pilot Sukhoi menurunkan ketinggian pesawat di sekitar Gunung Salak. Black box pesawat adalah kunci masuk untuk mengetahui alasan Alexander Yablontsev untuk menurunkan ketinggian pesawat.


http://www.terselubung.up2det.com/2012/10/kecelakaan-sukhoi-ternyata-hampir-sama.html

0 komentar:

Poskan Komentar

 

tabtub Copyright © 2011 - |- Pregador - |- Powered by bongak77.com